Perang Api Terteran Desa Pekraman Jasri Karangasem

Ditulis oleh : Putu Adi, pada : July 9, 2015 2:59 am


DSC04814

Desa Pakraman Jasri ( Desa Wisata Jasri ) adalah sebuah desa yang berlokasi di Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem. Desa ini memiliki potensi wisata yang sangat bagus, baik dari segi alam maupun tradisi seni dan budaya. Terletak pada jalur jalan raya provinsi Amlapura – Denpasar, 4 kilometer dari Kota Amlapura dan sekitar 90 kilometer atau 2 jam perjalanan kendaraan dari Kota Denpasar.

Selain memiliki potensi desa sendiri, Desa Wisata Jasri juga sangat dekat dengan objek wisata lain disekitarnya, seperti Taman Sukasada Ujung, Taman Tirtagangga, Puri Agung Karangasem, Pantai Pasir Putih, Candidasa, Tenganan dan yang lainnya. Bisa dibilang bahwa desa ini memiliki posisi yang cukup strategis.

Sebuah tradisi yang masih tetap dilaksanakan sampai saat ini secara turun temurun adalah Tradisi Perang Api, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama “ TERTERAN “.

Tradisi ini digelar setiap 2 tahun sekali, pada tahun bilangan ganjil, tepatnya pada hari pengrupukan, Raina Tilem Kesanga atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi, yang menjadi rangkaian dari Upacara Tawur Kesanga, Usaba Aci Muu Muu.

TERTERAN, dalam rangkaian Usaba Aci Muu Muu, merupakan sebuah tradisi upacara dalam rangka pembersihan alam secara niskala atau pemberian lelabaan kepada para bhuta kala agar tidak mengganggu kehidupan masyarakat di Desa Pakraman Jasri, yang gunanya untuk menetralisir kekuatan negatif menjadi positif dan membersihkan bhuana agung dan bhuana alit.

Tradisi Terteran ini memiliki beberapa fungsi diantaranya, untuk meningkatkan Sraddha kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai fungsi relegi, untuk meningkatkan dan menerapkan sikap gotong royong sebagai fungsi sosial, serta untuk pelestarian kebudayaan sebagai warisan leluhur.

601072_343210569124649_457817340_n

Dalam penyelenggaraannya, dari proses persiapan sampai pada hari upacaranya, memakan waktu yang cukup lama ( bulanan ). Dari rapat / sangkep persiapan, kemudian pengumpulan sarana upakara, ada yang disebut “ Ngalang “, dimana seluruh anggota masyarakat yang sudah terbagi dalam beberapa banjar, akan berkeliling ke seluruh wilayah desa, sesuai bagian masing – masing banjar, untuk memetik buah kelapa dan sarana lainnya yang diperlukan untuk upakara. Setelah semua sarana terkumpul, selanjutnya secara bergiliran, anggota masyarakat secara bergotong royong  menyelesaikan  upakara  ( Bebantenan )  sampai  pada  dilaksanakannya  pecaruan ( Kurban ).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menginjak pada Hari Pengrupukan ( Pelaksanaan Terteran ), pada pagi harinya akan dilakukan pemotongan sapi, yang nantinya, beberapa bagian dari sapi tersebut seperti kepala, kulit badan, kaki dan ekornya akan dipakai sebagai sarana persembahan / kurban ( Caru ). Sedangkan dagingnya akan dibagikan kepada warga masyarakat untuk diolah seperti biasanya dalam pesta adat tradisional dan setelah itu dilanjutkan dengan makan bersama yang dikenal sebagai tradisi “ Megibung “.

Sore harinya, kira – kira pukul 17.00, satu persatu warga mulai keluar menuju jalan raya, tempat pelaksanaan terteran, yang oleh kepolisian dan polisi adat ( Pecalang ) sudah ditutup sebagai jalur lalulintas kendaraan sampai upacara selesai. Warga masyarakat yang laki – laki, keluar dengan membawa bobok/obor ( Sundih ) yang terbuat dari daun kelapa yang sudah kering, diikat sedemikian rupa dalam beberapa ikatan yang cukup kuat, pada pangkalnya dimasuki batang kayu kecil sehingga cukup bagus untuk dilemparkan. Sedangkan warga masyarakat yang perempuan, yang punya anak kecil, akan mengajak ikut anaknya, karena menurut kepercayaan masyarakat, pada saat terteran itu merupakan saat yang baik untuk mengusir roh – roh jahat yang biasanya mengganggu bayi dan anak kecil.

886217_598272303534233_1427573492_oa

Ketika waktu sudah menunjukkan sandykala, suasana mulai gelap, tandanya upacara terteran akan segera dimulai. Semua petugas sudah siap pada tugas masing – masing. Semua lampu dipadamkan. Sekecil apapun sinar tidak diperbolehkan, bahkan menyulut rokokpun tidak diperkenankan. Benar – benar gelap gulita dan sepi, karena pada saat itu warga tidak boleh bersuara, menjadikan suasana berubah tegang dan dalam ketegangan itu, terlihat melintas laki – laki kekar, dengan seragam khusus kain putih dan saput loreng ( Poleng ) dengan memakai ikat kepala yang terbuat dari daun enau ( Ambu ). Berjalan agak pelan tanpa suara, dua atau tiga orang, sampai akhirnya yang terakhir ditandai oleh melintasnya Jero Mangku. Mereka berjumlah sekitar 20 orang, merupakan orang – orang yang bertugas melarung ( memundut ) sesembahan / caru ke laut.

Di belakang Jero Mangku, terdengar suara gemuruh, karena sebagian warga masyarakat terutama yang perempuan dengan anak kecil, bangun dan mengikuti dibelakang dengan sedikit bergegas agar tidak ketinggalan, menuju Bale Agung untuk mengambil caru, kemudian berjalan dengan cepat membawa caru untuk dilarung ke laut ( Pantai Jasri ).

Selesai melarung caru, Jero Mangku, Pemundut dan warga yang mengikuti, kembali ke desa dan sekembalinya mereka ini, dipercaya oleh masyarakat diikuti oleh para Bhuta Kala. Sampai dipertengahan jalan, bobok/sundih mulai disulut dengan api. Sementara warga laki – laki sudah menunggu di desa dengan sundih yang sudah menyala, sambil bersorak menunggu kedatangan pemundut untuk dilempar api ( Di Ter = istilah dilempar dalam upacara ini ).

Melihat api yang berjalan semakin dekat dari arah selatan, pertanda para pemundut sudah datang, suara gemuruh sorak warga semakin ramai, disertai dengan bunyi kentongan kayu ( Kulkul ) yang bertalu – talu. Setelah sedikit upacara penyambutan, dengan serta merta warga yang sudah menunggu, melempari para pemundut dengan bobok / sundih. Para pemundut dengan lincah dan sigap berkelit atau menangkis serangan api. Meskipun kena lemparan, mereka tidak merasakan panas, karena bagi yang kena api akan diperciki tirta suci. Proses ini dibagi dalam 3 episode, di Patung Salak, Di depan Banjar Ramya Sabha dan di Depan Balai Masyarakat, selanjutnya para Jero Mangku, Pemundut dan warga kembali ke Bale Agung.

Tidak sampai disana. Babak berikutnya adalah permainan perang api ( Terteran ). Setelah proses upacara diatas selesai, dilanjutkan dengan permainan perang api. Permainan ini biasanya diikuti oleh sebagian besar laki – laki muda, tetapi ada juga beberapa yang sudah dewasa. Mereka akan membagi diri mereka menjadi 2 kelompok secara serta merta, kelompok Jasri Kaler dan Jasri Kelod, yang dibatasi oleh seutas ambu sebagai garis tengahnya dan masing – masing tidak boleh melewatinya. Permainan ini tetap dibawah pengawasan pecalang dan pemuka desa.

Setelah dua kelompok ini terbentuk, mereka langsung menyulut bobok/sundih dan siap untuk berperang api. Masing – masing kelompok tanpa menghitung berapa jumlahnya, yang siap dengan senjata masing – masing, hanya menunggu bunyi peluit dari pecalang, setelah itu mereka saling serang dengan bobok/obor ( Sundih ) tersebut. Suara riuh warga yang menonton menambah semarak permainan ini, apalagi ketika ada peserta yang terkena lemparan api, maka sorak akan semakin ramai. Permainan ini berlangsung kurang lebih 3 babak sampai persediaan bobok/sundih habis. Setelah permainan selesai, peserta akan saling memperlihatkan jika mereka kena api atau tidak. Jika anda bertanya, apakah takut atau tidak, sakit atau tidak jika kena api, mereka akan hanya tertawa, karena kebanggaannya malah jika kena, karena mereka bisa menunjukkan bahwa mereka laki – laki yang kuat, apalagi dikerumunan itu ada wanita idamannya disana. Selanjutnya permainan ini akan dilanjutkan lagi 2 kali ( 2 hari ) setelah Hari Raya Nyepi. Berikut videonya :

Demikian sekelumit mengenai deskripsi “ Perang Api / Terteran “ di Desa Pakraman Jasri ( Desa Wisata Jasri ), semoga bermanfaat bagi para pembaca yang belum bisa mengikuti secara langsung upacara ini. Tentunya deskripsi ini masih jauh dari sempurna dan jika terdapat kekurangan dalam pemaparan ini, tidak bermaksud untuk mengurangi arti dan kesakralan upacara ini dan sudi untuk dimaafkan. Sekian dan terimakasih.







Sudah siap untuk traveling? mari jelajahi Bali bersama "Luwih Bali", nikmati promo dan wisata serunya!

Testimoni tamu LuwihBali.com